Menghindari Third Hand Smoke

Di balik setiap musibah, pasti ada hikmah yang bisa kita ambil. Seperti halnya pandemi wabah covid-19 yang belum terlihat ujungnya di Indonesia. Setidaknya, dengan adanya pembatasan aktivitas sosial, kita bisa mengurangi interaksi dengan para perokok aktif. Residu yang menempel di baju seorang perokok akan terus menempel kemanapun ia pergi dan bisa tercium oleh orang lain. hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan yang serius jika residu rokok tersebut dihirup oleh penderita asma yang sangat peka pada asap dan residu rokok.

Itulah yang disebut sebagai Third Hand Smoke. Third Hand Smoke (THS) merupakan zat yang berbahaya bagi kesehatan yang berasal dari residu racun dari asap rokok yang tidak terlihat dan menempel pada barang-barang yang ada di sekitarnya, termasuk rambut dan pakaian perokok. Meskipun asap rokok sudah menghilang, residu rokok yang menempel ini akan tetap ada dan bisa menyebabkan bahaya bagi kesehatan orang lain.

Ada beberapa zat-zat beracun yang terdapat dalam THS. 11 di antaranya bersifat karsinogen (zat penyebab kanker). Beberapa zat beracun yang dimaksud adalah nikotin, sianida, arsenik, butana, radioactive polonium-210, dan timah hitam. Selain itu THS yang menempel di permukaan benda atau terdapat di suatu ruangan dapat bercampur dengan bahan kimia lain di area tersebut.

Seseorang dapat terpapar Third Hand Smoke dengan menghirupnya, menelan (melalui makanan atau memasukkan jari yang terpapar ke dalam mulut seperti yang dilakukan bayi), dan penyerapan melalui kulit.

Risiko dari Third Hand Smoke bagi kesehatan hampir sama dengan Second Hand Smoke, seperti kanker paru, TBC (tuberculosis), dan risiko dari paparan THS lebih berbahaya bagi anak kecil atau bayi dibandingkan orang dewasa. Alasannya, bayi dan anak-anak lebih sering memasukkan tangan mereka ke mulut, mengambil, dan memakan benda-benda yang terkontaminasi THS. Maka timbul kekhawatiran, bila anak mengalami kontak dengan THS terlalu lama, ia cenderung berisiko mengalami gangguan neurologis lebih serius.

Bukan hanya karena ada pandemi kita harus membatasi interaksi dengan orang lain. Hal yang sangat penting adalah kita bisa bersikap lebih waspada dengan bahaya rokok yang berada di sekitar kita bahkan ketika si perokok sudah tidak berada di ruangan tersebut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *